Menyajikan Berita Informasi Di Seluruh Dunia

Sunday, 14 December 2014

Kontroversi Aturan Poligami Sejak Soekarno Menikah Lagi

iklanatasartikel

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Kontroversi Aturan Poligami Sejak Soekarno Menikah Lagi


Hari-hari pertama Tjahjo Kumolo menjadi Menteri Dalam Negeri, ia membatalkan aturan yang membolehkan pegawai negeri sipil poligami. Peraturan itu diterbitkan oleh Bupati Lombok Timur yang mensyaratkan mereka yang mau berpoligami membayar Rp1 juta ke kas daerah.

Sebenarnya, bupati berniat memperberat aturan poligami yang sudah ada dengan mengharuskan membayar, tapi bagi Tjahjo, aturan itu justru bikin pegawai pria keenakan.

Aturan boleh tidaknya berpoligami, terutama buat pejabat, sebenarnya sudah jadi kontroversi sejak 1950-an. Ketika itu berbagai organisasi perempuan gencar memperjuangkan aturan perkawinan yang menolak poligami.

Nahas bagi mereka, ketika tengah hangat-hangatnya perjuangan itu, Presiden Soekarno malah menikah lagi. Protes terhadap poligami Soekarno, terutama oleh istrinya sendiri, diceritakan dalam buku Fatmawati Sukarno, The First Lady.

Berikut ini nukilannya:

Fatmawati tengah berbaring di samping anak bungsunya yang berumur enam bulan, Muhammad Guruh Irianto Sukarnoputra. Pagi-pagi benar Soekarno masuk ke kamar dan duduk di depannya. “Fat, aku minta izinmu, aku akan kawin dengan Hartini.”

“Boleh saja,” sahut Fatma. “Tapi Fat minta dikembalikan kepada orang tua. Aku tak mau dimadu dan tetap antipoligami.”

“Tapi aku cinta padamu dan juga aku cinta pada Hartini.”

“Oo tidak bisa begitu!”

Mendapat penolakan itu, Sukarno berdiri dan keluar kamar. Namun tanpa restu Fat, ia tetap menikahi Hartini.

Fatma menolak karena sejak dilamar ia sudah mengajukan syarat enggan dimadu. Karena Soekarno melanggar janji, Fatma protes dengan pindah dari kamar di gedung utama Istana Merdeka ke paviliun.

Fatma juga memotong pendek rambut panjangnya. Sukarno mengagumi perempuan berambut hitam panjang dan tercatat kerap memarahi istri-istrinya yang berani memangkas rambut.

Soekarno menanyakan soal itu kepada Siti Dalimin, pegawai di istana. “Rambute yo dikethok cendhak, opo maksude cobo?” (Rambutnya dipotong pendek, apa maksudnya coba?)

Siti menjelaskan, Fatma mengatakan kepada dia kalau rambut panjang itu tak dibutuhkan lagi. “Hati saya hancur Mbakyu, tetapi saya pasrah, saya bersyukur bukan saya yang membuat hati orang lain hancur,” kata Siti menirukan ucapan Fat.

Mendengar itu Soekarno kecewa. “Aku gak duwe maksud nglarakno atine.” (Aku tidak punya maksud menyakiti hatinya.)

Tersiarnya kabar poligami Soekarno itu terjadi pada saat organisasi perempuan sedang gencar mengampanyekan penyusunan aturan antipoligami. Organisasi-organisasi yang menginduk pada Perwari itu kontan saja mendukung Fatma.

Perwari memang sedang mengampanyekan undang-undang perkawinan yang antipoligami. Tadinya mereka berharap Sukarno mau mendukung, nyatanya perkawinan dengan Hartini itu jadi pukulan telak buat mereka.

Delegasi dari Gabungan Organisasi-organisasi Perempuan Jakarta menemui Soekarno dan Fatma di istana buat menyampaikan protes mereka. Kepada mereka, Soekarno mengatakan hanya Fatma yang diperkenankan jadi istri presiden.

Ketua Umum Perwari Sujatin Kartowijono sempat meminta Fatma bertahan di istana. “Kami sedang berusaha agar perkawinan ini dapat digagalkan,” kata Sujatin.

Beberapa pekan setelah pertemuan itu, Fatma memanggil Sujatin dan Lena Sukanto ke istana. Fatma mengeluh, karena setelah menuruti nasehat untuk bersabar, bahkan tersenyum saat Soekarno datang dari Bogor, suaminya itu malah salah paham.

“Saya dengar Mas Karno bicara kepada kepala rumah tangga istana dalam bahasa Jawa,” kata Fatma. Saat itu Sukarno mengatakan, “Kok wis gelem, yen ngono diwaru wae!” (Kok sudah mau, kalau begitu diduakan saja!).

Fatma menyampaikan niatannya pergi dari istana sudah bulat. Ketika Sujatin dan Lena menyarankan agar mengurungkannya demi anaknya yang masih kecil, nada suara Fatma malah meninggi.

“Bu Kartowijono ini bagaimana toh? Apakah Bu Karto mau saya dimadu?” kata Fatma. “Biar saya kecil, badan saya kecil, Bung Karno besar dan hebat, saya toh mempunyai hak menentukan nasib sendiri!”

Setelah pertemuan itu Fatma menulis surat yang menyatakan niatnya keluar dari Istana. Ia pindah ke rumah di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, demi mendapat ketenangan jiwa.

Kepergian itu adalah puncak protes Fatma. Kepindahan itu juga dibarengi dengan keengganan Fatma menjalankan peran-peran Ibu Negara.

Perwari pun menunjukkan mereka lebih menyokong Rahmi Hatta, istri Wakil Presiden Mohammad Hatta, ketimbang Hartini buat mengisi vakumnya posisi Ibu Negara. Memang sejak Fatma absen, Rahmi yang menggantikannya.

Sujatin pun membuat edaran kepada seluruh organisasi perempuan. Dalam edaran itu dia menyatakan poligami presiden itu telah menurunkan derajat dan martabat kedudukan kepala negara dan menusuk hati perempuan yang sedang memperjuangkan kedudukan yang adil bagi wanita dalam perkawinan.

Geger poligami itu tak berhenti di situ. Pasalnya Fatma menyurati kabinet dan parlemen, meminta mereka menyelesaikan urusan rumah tangganya sebab ia minta diceraikan dan Sukarno menolak.

Sementara buat Perwari, protes kerasnya memakan korban. Banyak anggotanya mundur karena suami mereka ditekan di tempat kerjanya. Sujatin diintimidasi bahkan menerima ancaman pembunuhan.

Bagi Fatma dan Perwari protes itu lebih kepada menyelamatkan kaum perempuan agar tidak jadi korban permainan lelaki dalam perwakinan. Sebaliknya Sukarno dan pendukungnya menyatakan gerakan Perwari itu tak tepat mencampuri urusan pribadi bukan protes soal-soal kenegaraan.


Selengkapnya bisa dibaca di buku

Judul:
Fatmawati Sukarno, The First Lady
Pengarang:
Arifin Suryo Nugroho
Penerbit:
Penerbit Ombak, 2010
Tebal:
xx + 275 halaman

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kontroversi Aturan Poligami Sejak Soekarno Menikah Lagi

0 komentar:

Post a Comment

Mohon Komentatnya Tidak Melanggar TOS
1.Tidak saling menghina
2.menghargai postingan ini
3.Berkomentarlah sesuai dengan postingan atau relevan
4.Berkomentarlah dengan bahasa indonesia yang abik
5.Hargai pendapat orang lain
6.Harap tidak memasang link aktif